Jumat, 05 Oktober 2007

Kereta Presiden Soeharto "Membisu di Simpang Haru"

MKA Edisi Maret
Halaman 10
Reporter: Dian Pujayanti




Seperti kereta Nusantara, kereta Presiden Soeharto ini tak kalah mewah. Sayang kereta yang melayani lawatan presiden ke pabrik semen Indarung, Padang itu, kini diam membisu di Balai Yasa Simpang Haru."

Bersama Ir. Chandra Purnama, Kadivre Sumbar, MKA diantar keliling Balai Yasa Padang. Melihat beberapa lokomotif BB 303 yang dilepas baterainya dan terdiam menunggu suku cadang yang tak kunjung . “Ya, di gudang Balai Yasa ini yang tersedia spare part untuk BB 204. Jadi untuk BB 303 tidak ada," jelas Kadivre II Sumbar ini.

Di dalam Balai Yasa ini juga dapat ditemui BB 204 06, 07, 08, 11, 12, 13, dan 14. "Kondisi BB 204 sendiri masih dapat beroperasi, hanya untuk menjalankan perlu sedikit perbaikan karena lok-lok tersebut sudah lebih dari 2 tahun tidak dijalankan," tambah mantan Kasi Program jalan dan jembatan PT. Kereta Api (Persero).

Puluhan gerbong KKBW (gerbong batu bara) juga ditemui menganggur tanpa kejelasan kapan akan dipergunakan kembali. Beberapa loko BB 204 yang pernah merajai jalur Sumbar ikut menemaninya. Suasana Balai Yasa yang semestinya nyaring dengan suara mesin dan kegiatan para pekerja, tidak ditemui di sini. Ilalang dan kesunyian adalah makanan sehari-hari Balai Yasa terbesar di Sumatra ini.

Balai Yasa Padang atau lebih dikenal dengan Balai Yasa Simpang Haru, terletak satu komplek dengan kantor PT. KA (Persero) Divre II Sumbar, yang terdiri dari PT. KA Divre II, Kantor unit Pelaksana Teknis (UPT) PT. KA Padang dan Dipo Lokomotif Padang.

Kereta Presiden Soeharto
Menuju ke belakang, berada di samping ruang teknisi, MKA bertemu dengan Kereta yang pernah di pakai Presiden Soeharto tahun 1994. Menurut Lizarman, petugas tiket KA Wisata Stasiun padang, kereta yang interiornya hampir mirip kereta Nusantara itu, hanya dipergunakan beberapa kali saja. Kereta tarsebut pertama kali dipergunakan Presiden Soeharto dalam kunjungan ke pabrik semen Indarung.

Di bagian samping terdapat kereta ukur yang sudah berumur 85 tahun. Kereta ukur yang sudah berumur 85 tahun. Kereta yang awalnya adalah gerbong penumpang jalur Padang-Sawahlunto-Bukit Tinggi ini, direnovasi tahun 1970-an menjadi kereta ukur.

Kereta yang diresmikan pengoperasiannya tahun 1978 pertama kali dipergunakan juga oleh Presiden Soeharto untuk meresmikan jalan angkutan semen curah, Indarung-Teluk Bayur. Setelah itu tidak dimanfaatkan lagi dan hanya standby berjaga-jaga jika ada tamu negara. Rencananya kereta ini dipergunakan sebagai KA Wisata.

Menurut Lizarman, sebenarnya loko dan gerbong yang diam dan berada di sudut-sudut Balai Yasa masih dapat digunakan. Namun sedang menunggu kucuran dana perbaikan.

Rabu, 26 September 2007

Jejak Loko Uap KLB Presiden Soekarno.









MKA
Jawa Barat
31 Juni 2007
Penulis: Dian Pujayanti


Sekitar dua tahun lalu, saya melihat ada sebuah bangunan mirip bengkel kereta di lintas Kerawang-Cikampek. Di dalamnya tampak dua buah loko uap hitam, yang satu ada kupingnya. Bisakan Majalah KA menelusuri loko-loko itu? Apakah masih ada?

Berbekal email Deny Nurdin yang terus memberi informasi seputar temuannya tersebut, MKA berangkat bersama “Odong-odong” untuk menelusuri jejak si hitam legam di Karawang. Odong-odong merupakan sebutan KA penumpang jurusan Pasar Senen-Purwakarta. Disebut odong-odong, menurut penuturan pengasong Stasiun Senen, Selain kondisinya yang buruk KA ini selalu mengalah terhadap kereta lain.

KA Odong-odong terdiri dari 2 kelas. Ekonomi dan bisnis masing-masing berjalan satu kali. Tiket KA Odong-odong cuman Rp 2500,- untuk kelas ekonomi, dan Rp 5000 kelas bisnis. KA ini bebas menurunkan dan menaikkan penumpang di setiap stasiun sepanjang linta Pasar Senen-Purwakarta. Uniknya, siang itu si Odong-odong ditarik lok CC 203 01 milik Depo Yogyakarta. Sedang lok CC 201 warna merah yang biasa menemani, justru digunakan menarik KA Eksekutif Taksaka. “Yang lagi nganggur ini, makanya dipakai. Sedang lok yang biasanya untuk narik Taksaka,” terang Rijadi, asisten masinis KA Odong-odong lepas stasiun Cikampek, Haah…?

Bengkel Perucatan Loko Uap
Lepas stasiun Cikampek, udara panas kian mengitari kami berdua. Sesekali kami mengusapkan ribuan tisu untuk menghilangkan keringat yang mengucur. Tak ayal, kumpulan tisu memenuhi ¾ dari tas kami. Kami pun terus mengorek cerita dari masinis dan asistennya.

Menurut Rijadi, keberadaan loko uap sudah tidak tercium sejak dua-tiga tahun lalu. Kalaupun ada hanya deponya saja yang tertinggal, yaitu di Purwakarta dan Kerawang. Depo Purwakarta yang menjadi basis loko uap fungsinya sudah beralih menjadi lapangan tenis dan bulu tangkis. Sedang Depo Kerawang sekitar tahun 2003-2005 pernah sebagai tempat mangkrak loko uap.

Dari stasiun Kerawang, kami berjalan menuju bekas depo Kerawang, tempat dimana dua loko uap pernah dilihat Deny. Depo ini terletak sekitar 500 meter ke arah timur stasiun Kerawang. Meski keberadaan depo sudah terhalang rumah-rumah penduduk, sangat mudah mencarinya. Masyarakat sekitar akan menunjukkan arah depo tersebut.

Bangunan seluas 40 x 20 meter ini terdiri dari 6 pintu utama dengan 4 buah jendela besar. Ada 3 bekas landasar sepur ukuran 750 mm, dan 3 gudang penyimpanan. Selain itu terdapat 2 sepur ukuran 1.067 mm diluar depo. Sayang kondisi depo sangan parah. Pengeroposan tembok dimana-mana dan beberapa bagian atap telah hilang. Tak dijumpai secuil relpun disini. Apalagi loko!.

Layaknya depo KA era kolonial, tepat di samping depo sekitar 10 meter terdapat tower air. Tak jauh dari sini dan masih satu komplek ada kantor PUK yang masih utuh dan telah beralih fungsi sebagai mushola dan tempat tinggal pegawai PT. KA. Sedang depo menjadi area bermain bola anak-anak sekitar. Menurut Bagus (10), salah satu anak-anak yang sedang bermain, dirinya melihat ada loko hitam dua-tiga tahun lalu. Ia dan teman-temanya juga melihat loko hitam tersebut dipotong-potong. “Orang-orang saling berebut teh, terus di jual ke tukang besi,” katanya ringan.


Loko Presiden Soekarno
Pak Hari, salah satu warga menyatakan saat terjadi pemotongan (perucatan) seluruh lok, ada orang luar negeri yang turut menyaksikan. “Dulu ada 5 lokomotif yang biasa berbaris di depo ini. Tiga lok kecil di dalam dan 2 lok besar di luar. Saat motong-motong juga ada orang Perancis selain orang-orang dari PJKA (PT. KA)”.

Hari juga melihat, orang-orang bule tersebut mengabadikan dalam sebuah kamera. Pria yang pamannya adalah masinis lok uap depo Kerawang ini, menyebutkan jenis-jenis lok uap yang di rucat yaitu TC, TD, D2, D3, dan C. Uniknya khusus lokomotif uap seri TC, masyarakat biasa menyebutnya si “Cemet” yang berarti loko kecil ukuran menengah.

Si Cemet ternyata tidak sendiri. Ada loko besar yang diduga loko penarik KLB Presiden Soekarno C 2849, juga dirucat di depo ini. “Lok besar, peninggalan Bung Karno juga dipotong disini. Rencananya mau dipindah ke Taman Mini tapi karena rodanya sudah hancur jadi dipotong juga,” jelas Ndung, warga lainnya.

Hingga MKA meninggalkan tawa ceria anak-anak masih menghias di bekas depo tua lok uap itu. Meski bangkai lok-lok uap tak berhasil ditemukan setidaknya sepenggal sejarah raibnya loko uap KLB Presiden Soekarno, sedikit terkuak. Penelusuran MKA belum berakhir, kami segera bertandang ke salah satu masinis loko uap yang berumur 80 tahun dengan 9 anak, 24 cucu da 5 cicit.

Kamis, 20 September 2007

Aku Bahagia

Kemarin, Aku bahagia. Bahagia itu muncul justru setelah dua bulan tidak keluar kantor karena harus segera menyelesaikan Majalah KA edisi khusus part 2. Tiba-tiba saja aku ditelepon salah satu kenalanku yang juga bergerak di bidang media, untuk mengedit majalah internal milik civitas terkenal di Jawa Tengah. Awalnya sempat ragu, maklum aku yang baru m'banting setir di dunia jurnalistik pasca semester 5 langsung dipercaya sebagai Editor. Meski pengalaman di dunia jurnalistik hampir 3 tahun, ternyata tak memberi jaminan 100% akan kemampuan jurnalis-ku.

Katakan saja, kualitas tulisan di MKA terkadang ditertawakan pemred-ku karena permasalahan pada diksi (pemilihan kata). Sedang Grouping, yah... aku bisa lah diacungkan jempol. Di almamater-ku sekarang, bisa dibilang telah "jatuh arang" alias bosan dan sudah waktunya berganti almamater. Tuhan memang maha kasih dan maha sayang, Mungkin karena niatku yang tulus dan bukan menganaktirikan almamater lama serta doa khusy'u Sang Yang Widhi mewujudkan keinginanku dalam bentuk pembelajaran.

Bagaimana mungkin aku tidak berterima kasih, rezeki yang kudapatkan tidak hanya nantinya berbuah financial tapi juga peningkatan pada kemampuan jurnalisku. Meski memiliki mental kuat akan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan, tetap saja rasa was-was timbul di dalam hati dan pikiran yang terus mencari akhir jati diri ini.

Kata kawanku, "Bagaimana bisa mengerti jika tidak mencoba. Intinya terus maju dan terima segala kritik," jelas kawan yang seolah mengerti bahwa aku anti kritik. Yah semoga ini menjadi awal kembali guratan cintaku di dunia jurnalist.

Untuk yang tercinta, Adytia Erry Putranto.